11.10.2014

Tentang Agama, Tuhan, dan Manusia

pic from google

Pernah dengar istilah 'agnostik'? Istilah agnostik dipakai untuk orang-orang yang percaya (atau tidak percaya) akan adanya suatu kekuatan besar tapi berkeyakinan bahwa hal tersebut tidak dapat dibuktikan oleh pikiran manusia. Bisa dibilang sih, agnostik bukan aliran kepercayaan tertentu. Tapi sebuah keyakinan bahwa kemampuan manusia terbatas untuk membuktikan adanya (atau tidak adanya) kekuatan besar atau Tuhan.

Lima atau empat tahun lalu, saya punya kesempatan menjelajah negara orang dan melihat dunia dari cara pandang yang berbeda. Di sana, saya mengenal beberapa orang yang sejak lahir mempunyai keyakinan berbeda atau bahkan tidak mengenal agama sekalipun. Hal itu membuat saya sadar bahwa orang-orang Indonesia lahir dan dibesarkan di lingkungan yang sarat agama. Maka tidak heran jika saat ini detik ini, mereka menganggap agama luar biasa pentingnya bagi hidup mereka.

Saya sendiripun, tidak bisa menyalahkan atau bergargumen tentang penting tidaknya agama bagi hidup manusia. Mungkin penting, mungkin tidak. Yang pasti di luar sana banyak orang yang hidup dengan berbagai pandangan. Sayangnya beberapa orang, baik agamis atau atheis yang mempunyai dua pandangan yang berlawanan begitu keras kepala dan teguh pendirian, bahkan 'memaksa' orang untuk ikut dengan apa yang dipercayai sambil menyampaikan ribuan alasan yang hanya mereka yakini.

Dulu saya pernah kecewa. Jantung yang berdetak-detak kencang di kala saya memperhatikan, membaca, atau menonton berita tentang sesama manusia yang membunuh dengan nama Tuhannya. Seakan mereka percaya akan Tuhan yang membunuh.

Lalu saya ingin menjadi atheis. Saya menolak untuk ikut dengan kepercayaan apapun yang agama berikan. Agama apapun itu. Karena saya kecewa dengan perilaku orang-orang yang mengaku beragama. Karena mereka membunuh, menyakiti, dan paling penting Sok Tahu.

Lama berselang, jiwa muda saya yang masih dapat terombang-ambing, melihat adanya salah persepsi dalam diri saya. (Bukan berarti saya bilang atheis itu salah) Nampaknya, hati kecil saya masih ingin mempercayai sesuatu kekuatan yang pernah saya kenal. Lalu saya mulai mencari keberadaan Tuhan yang mungkin ada. Pencarian beberapa lama itu, saya akhiri dengan tanda tanya yang tidak perlu dijawab. Biarlah ia mengambang seiring waktu. Biarlah ia menegaskan dirinya sendiri ketika saatnya.

Sayapun mengamini keyakinan dari hati kecil saya bahwa Tuhan bisa jadi ada atau mungkin tidak ada, dan manusia terlalu kecil untuk  dapat membuktikan atau menunjukannya kepada orang lain. Tuhan hanyalah pengalaman religius masing-masing orang yang tidak bisa begitu saja dibagi (karena setiap orang berbeda). Kepercayaan tidak bisa begitu saja diobral dan dibagi-bagi. Tapi perbuatan baik selalu bisa, dan tidak akan pernah habis.

Perdebatan tentang agama dan kepercayaan, sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari perdebatan tentang perbedaan. Dan manusia masih terlalu muda untuk bisa menghargai perbedaan. Terlalu sombong untuk berpikir terbuka, dan terlalu memuliakan otaknya yang dipenuhi keyakinan. Sehingga terdorong untuk menghabisi yang berbeda dari dirinya.

Berbeda. 
Berbeda tidak pernah salah. Jiwa yang tidak menghargai perbedaan yang kerdillah yang perlu diajari. 

Kemarin, ketika sedang 'asyik' facebook-an, sebuah video muncul di beranda facebook saya. Video tentang 'Kristenisasi terselubung di Car Free Day'.

Saya cuma ketawa kecil melihat teman saya yang meyakinkan kalau misionaris kristen tidak pernah diajari melakukan hal seperti itu. 'Memaksa' orang untuk masuk kristen. Dan saya lebih ketawa miris lagi melihat komentar penuh kebencian di setiap video itu disebar.

Terlepas dari benar tidaknya video itu, saya menarik kesimpulan, orang-orang masih terlalu sensitif dan mudah sakit hati dengan permasalahan agama, sehingga sulit mencari kepala yang dingin untuk menelaah atau berpikir lebih dalam dari sebuah kejadian ini. Kepercayaan yang dipegang begitu kuat, ketika tersenggol, manusia langsung mengeluarkan pedang kemarahan dan mengatasnamakan Tuhan. Ah.. selalu begitu!

Kepercayaan akan suatu yang transenden sudah ada sejak dulu. Terlepas dari teori evolusi atau mungkin hanya manusia yang selalu beradaptasi di lingkungannya, manusia masih sama. Keterbatasan manusia yang hanya memiliki 6 panca indera dan adanya rasa ingin tahu yang begitu besar akan sesuatu yang lebih dari dirinya, membuat manusia menyadari kemungkinan adanya kekuatan besar yang mengatur semua ini.

Semua kemungkinan itu lalu diyakini dengan adanya berbagai bukti pelengkap.

Dari sebelum adanya agama, manusia sudah percaya akan sesuatu yang lebih besar dari mereka. Meski namanya berbeda, agama dan kepercayaan mempunyai satu arti.

Lalu muncullah sifat manusia yang keras kepala. Berbagi dengan cara memaksa.

Kembali ke video tadi. Bukan tidak mungkin kristenisasi itu terjadi. Sebagai seorang penggemar mitologi, saya sempat menilik ke sejarah mitologi yang menjadi buruk namanya ketika adanya kristenisasi di Eropa. Kepercayaan pagan itu baik, kepercayaan kristen itu baik. Lalu muncul kebencian dan keburukan ketika adanya pemaksaan kepercayaan.

(Itulah makanya saya dulu menolak agama.. Orang-orangnya itu lho, terlalu fanatik, terlalu sok tahu, tidak bisa berpikir terbuka. Kepercayaan sendiri ko jadi harga mati buat orang lain. Saya sih ga suka, kepercayaan saya jadi harga mati buat orang lain.)

Semua pemaksaan kepercayaan baik kristenisasi atau islamisasi atau apapun lah, terjadi di mana saja dan kapan saja. Video yang beredar tersebut mungkin juga satu bentuk kristenisasi, (tulisan saya tidak dalam ranah pembuktian yang pasti). Tapi hal itu sama salahnya dengan segala bentuk pemaksaan kepercayaan dan agama. Agama apapun.

Yang bikin saya miris dengan hati tersayat-sayat adalah, munculnya kebencian yang salah tempat.

Yang satu bilang hati-hati kristen begini begitu. Yang satu bilang kristen tidak begini begitu.

Tidak ada yang salah dari mengenal suatu kepercayaan. Mengenal suatu kepercayaan bukan berarti menjadi percaya dengan apa yang kita pelajari. Selama ini kita mempelajari dunia binatang, kita tidak pernah menjadi binatang. Mungkin hanya orang-orang yang berpikiran sempit dan berhati kecil yang bisa merasa begitu takut.

Manusia terlalu bodoh untuk berpikiran terbuka, apalagi kalau kepercayaan dan agama sudah jadi harga mati buat dirinya dan orang lain.
(Itulah makanya saya dulu menolak agama.. Orang-orangnya itu lho, terlalu fanatik, terlalu sok tahu, tidak bisa berpikir terbuka. Kepercayaan sendiri ko jadi harga mati buat orang lain. Saya sih ga suka, kepercayaan saya jadi harga mati buat orang lain.)

Folks. Kepercayaan itu pengalaman religius yang pribadi. Tidak dapat dibagi dan dipaksakan. Hanya kebaikan yang dapat dibagi dan tidak pernah habis. Dan kebencian, yang juga bisa dibagi, tapi sifatnya menghabisi manusia.

11.06.2014

Our Society

image
Ferris Wheel- Alun-alun di Malang

We live in the world where society keeps reminding us the system, the norms, what's proper and what's improper. And they leave no space for compromises and they give no mercy for those who walk beyond their system, or against their norms.

And again we are somehow dictated by tradition, cultures, and our religion. Well I think those things I said earlier are essential for our life, and what's essential should not be made to make things harder for us to live.

VICTIM BLAMING

I live in a place where victim blaming is what everyone agree. The victim of one rape case for example often being seen as the one who was guilty for being too seductive. Girls in my country are told not to wear sexy clothes, but what the hell is the definition of sexy anyway? We cant show our cleveage, we cant wear shorts, we cant wear skirt in a public places. And tell me what is the reason. Girls you better put some clothes or else they'll rape you, and you fuckin deserve it.

Who deserves getting raped? Wearing clothes that is comfortable is not a sin.

While it seems that I made excuses for me wearing short pants or skirt, well it is not. I have no problem wearing trousers or more casual and not too revealing my parts of body kind of clothes. But the reason should not be 'put on some clothes or else you get raped'

Because rapist rape anyone that moves. Children, teenage, adults, old people, boys, girls, all has the same chance to get raped. Why? Because rape is what a rapist do. Even people someday consider to stop producing 'improper clothes' rape case will still exist. Trust me
Things that we should do is to educate more people not to rape. Educate our children to behave well, by well means to respect other people and not to hurt them.

So please stop victim blaming. Even a whores don't deserve getting raped!

NIGHT OWL

I am an night owl. I love staying up all night alone or with somebody to talk to. My boyfriend and I love to talk. We bought one or two cups of coffee, and that last for a night. We just talk, nothing else. But then, I have to come late to the room I rent, where I live.
Sadly, these people around my neighborhood loves to justified what is wrong and what is right. They love bad mouthing people like me. 'That girl who comes late with her boyfriend. This girl is probably not a good girl'

I 'love' the idea that good girl only exist when the daylight, and bad girls are exist when the night come. You know what, I really wished to open that tiny brain these people have and shove it some more logical perspective so they could see that all this time, their life is so undesirable.
Since I was a kid, Night Owl has been labeled so wrong that no one could ever make the right out of it.

Plus, bad people who make use of a less light from the sun to do evil things is just as bad as these people who love bad mouthing.
Oh god, why people could be so evil?

VIRGINITY

We have come to the very taboo topic going on these days. Especially in Asia, where virginity is the only sign of good girls (or boys). Especially girls.
I've made some research sometime before about why virginity had some special definition and is so important.

When we talk about virginity for girls, we like to talk about hymen. What is hymen? Hymen is that soft membranes that covers girl's vagina. The damage of hymen that in some cases causes vaginal bleeding is believed to be the sign when a girl losing her virginity.

Girls are told that virginity is important that those bleeding vagina because of the damaged hymen happened after penetration (with penis) should happened only when they're married.

Society believes good girls should not have sex before marriage. They should not lose virginity.
Why hymen? Traced back to a greek mythology that timezone. There was once a god named Hymen. This God should be present in every marriage. It is a sign that his presence brings good thing to that marriage.
When we translate it to modern world, we will notice that 'hymen that should be present' means girls should not break their hymen before marriage.

This ancient belief is now mistranslated.
To me virginity is a losing of innocence. Which is very common and will happen to every human being in this
world. After we were born, day by day we will know more things and will lose our innocence.

Having sex before marriage is nothing wrong to me. Because marriage nowadays is different as love. You may love someone but it doesnt mean you can marry him or her. But those who get married doesnt always mean they love each other.

But you should have sex with your loved ones. The most important is not when you will lose your virginity. But whether you are ready or not to have sex. You have to know about it before you have sex. You have to do it safely and nicely and with one you loved.

Why? Because sex is not a celebration or marriage but a celebration of love.
I have also do some research about the differences between making love and have sex. While both have things in common, but the difference is one you do with lust(no love) and one with love.

Well we all have lust.

But in some websites stated that when you make love with one you love, your body produce some chemical stuff that are healthy and important to you. While have sex (with only one person is in consent) mighy be hurt to the other person.

Well, what I'm saying is, making love is more fun healthier and happier with one you love. Because deep inside people are feel lonely, and love is one of the essentials things people need. Without being so idealist. I think each of us deserve some loves.

We are so concern about tradition, cultures, and religion, about proper and improper things, about norms, that we forgot how to treat other people and not being rude.

We are all just human, giving up ourselves to the system without evaluating it is not what a human do.
We made mistake of course. But we are also a human that should make compromises and leave some space to other people.

We share the some world, what makes someone have the right to rule over other people's life?

Fear

pic from google 

Why things that hurt so bad could be unforgettable?And why should anyone get through traumatic experience at least once in their life?

Two days ago, someone broke into my room and they, though I'm not really sure how many are them who involved in this crime, stole my stuff. I usually went back to my room with my friend who live in the same building with me, or with my boyfriend to put things down or get something then go out for dinner. But that time, I went back alone. My friends have come back home earlier than me, and one of my friend didn't go to work that day. And my boyfriend had something to do. 

I stay at the work office until 8 p.m., then I bought me some food and stuff from the store. I walked slowly to my room and try to unlock the door, when I noticed something wrong must have happened. I opened the door and find out that my wardrobe was left opened. Until now, this image I have seen printed in my mind. Just like a camera, my mind could really captured the image of how I noticed that someone has come to this room without permission. Someone has broke into my room and making a fucking mess.

I feel devastated and depressed and then rushed to my friend's room, knocking. In a terrible voice within terrible breath, I spoke out my word, 'somebody has stolen my laptop'

My friend and I rushed to my room to find the exact image I have seen before. My wardrobe was opened, my laptop was gone, and everything was in a mess. I suddenly can't breath and sat down crying. That was the loudest cry I ever made. I was terrified knowing how someone has earlier some people were in this room checking on my stuff and take it all.

Up until now, these image and thought has never leave me alone. Why would things that hurt so bad can't be forgotten? And why would we born, grew, and raised to be hurt by several traumatic events? Why should we live in fears?

I imagined that people in this world has never once live in peace. They went to a store bringing money, they're in fear meeting stranger who probably will steal their money. They watch TV at dawn, going to sleep at night, they're afraid people will come and murder them in the dark. Girls are afraid to walk alone at night, despite the clothes they wear, they will get raped anyway. 

Sadly, there always be bad people who will fuck with all of us. Sadly, there are people who aren't afraid of doing bad things. They're not afraid of breaking people's heart. They will steal, rape, murder, hurt other people, and they don't care.

I was somehow surprised by my own thought that soon we were born, we will live in fear.. Fear of getting hurt, fear of dying. And there would be people who will do anything to hurt us, just because the want to. And that's life.

Now sit down and remember how many times in your life you have gone through traumatic events that even you know, you have lived well until today, that image that brings pain to your heart will be there. 

Two days have passed. My mind is still in hurricane of many negative thought. I still live in fear. My only prayer to God is I wish I could find some peace today. 

10.27.2014

Distraksi Masa Lalu dan Melankoli

pic from google

Ia menempelkan kartu yang dikalungkan di lehernya ke sebuah kotak mesin yang mencatat kepulangannya, lalu bergegas keluar pintu yang sering dilewatinya selama satu tahun belakangan. Matahari sudah lama tenggelam di antara gedung-gedung kota sehingga ia tak bisa lagi memperhatikan sinarnya yang dulu perlahan menghilang di antara daun-daun rimbun ketika ia masih kecil.

Ia dulu berlarian ke rumahnya, bersembunyi di balik kaki ibunya yang sedang menutup pintu. Ia menghabiskan sisa sore itu di bak mandi dengan bebek mainan serta senyuman ibunya yang sedang membersihkan badannya. Merasakan hangatnya handuk yang dililitkan ke badannya, ia meminum susu panas yang dibuatkan ibunya. Sambil mendengarkan lantunan lagu dari salah satu stasiun radio, ia tertidur. Sebuah masa di mana ia memiliki waktu yang lama untuk bermimpi.

Ia berjalan menyusuri lorong kecil yang menghubungkan kantornya dengan halte dimana ia biasa menunggu bis yang menghantarkannya pulang ke sebuah apartemen miliknya. Berdesakan dengan penumpang lain, ia berhasil mencangklongkan headset ke telinganya, perlahan mengalun sebuah lagu dari masa mudanya; ketika ia berarak dan berbaris menuntut keadilan, ketika rentetan topik menarik keluar dari mulutnya yang sesekali mengisap rokok, dan ketika ia menghabiskan malam minggu dengan beer dan minggu pagi dengan secangkir kopi.

Lalu ia membaca tumpukan buku tua yang dijual murah di kios dekat rumanya. Sampai matahari sore kembali muncul di jendelanya. Ia bergegas ke luar rumah, berjalan di taman sambil menunggu tenggelamnya matahari di antara pepohonan. Menyapa anak kecil yang bersepeda, ia lalu tersenyum kepada burung-burung yang kembali ke sarangnya.

Bis kota yang dinaikinya mulai sepi. Penumpang terakhir sebelumnya menggendong anak kecil yang tertidur kelelahan. Ia memencet bel bis kota dan segera turun di halte berikutnya.

Ia berjalan ke apartemennya. Lagu masih mengalun di telinganya, lagu yang ia dengar dulu di radio sebelum telepon genggamnya berdering mengabarkan ibunya yang sudah meninggal. Ia menangis semalaman tanpa teman. Tidak ada susu, tidak ada beer, tidak ada kopi yang menemaninya. Hanya suara radio yang perlahan sepi. Tiga hari kemudian ia menghadiri kelulusannya sendirian.

Ia membuka pintu apartemennya, mengambil tumpukan obat lalu menuang secangkir air putih. Ia meminum habis air putihnya sambil duduk di depan tivi. Suara tivi menghantarnya memasuki mimpi. Mimpi yang tak pernah ia miliki lagi sejak dulu. 

10.24.2014

Pikiran Kritis Menggelitik

Akhir-akhir ini tersadar kalau frekuensi menulis saya berkurang drastis jika dibandingan satu tahun lalu di mana waktu luang terlihat sangat membangkitkan selera menulis. Sekarang, sepulang kerja nampaknya saya terlalu letih jika masih harus berpikir ini itu demi menuangkannya ke sebuah tulisan. Rasanya waktu luang itu lebih asyik dihabiskan untuk bersantai mengobrol atau mengistirahatkan tubuh dan pikiran di atas kasur.

Pertanyaannya adalah, kemana perginya pikiran kritis menggelitik yang dulu bersliweran di otak saya? Atau sebenarnya pikiran itu masih tersimpan di sana, menumpuk, lalu terlupakan? Mungkin kebanyakan dari kita sebenarnya terkurung di rutinitas membosankan yang membuat kita mengamini yang sudah ada tanpa mau memperhatikan pikiran kritis menggelitik namun menarik.

Saya rindu menantang tatanan yang sudah rapi dan mencari kebenaran yang nampaknya tidak cuma satu di dunia ini. Seperti pertanyaan menggelitik teman saya ketika makan tadi. 'Itu yang tadi lu share, maksudnya gimana? Emang di sana begitu ya?'

Postingan ini dibuat oleh seorang pengguna facebook bernama Setio Nugroho. 

Pertanyaan itu membawa saya ke kurang lebih satu tahun yang lalu ketika masih numpang hidup di negara orang. Euforia terhadap IKEA yang baru hadir beberapa waktu lalu, sama seperti yang saya rasakan ketika pertama kali diajak ke IKEA, sebuah toko furniture yang didesain unik dan dilengkapi dengan restoran. Hmm, sesuai ukuran kantong mahasiswa, saya datang ke sana hanya untuk mengagumi desain ruangan dan mencicipi sosis IKEA yang luar biasa enaknya. 

Restoran kecil itu dilengkapi dengan 4-5 meja tinggi tanpa kursi. Jadi sehabis kami memesan makanan dan minuman, kami berdiri melingkar di pinggir meja. Setelah selesai makan, sambil melirik-lirik ke kebiasaan orang sana, kami mengumpulkan sampah kami dan membuangnya ke tempat sampah. Meninggalkan meja dengan bersih sehingga dapat dipakai oleh orang setelahnya.

Kebiasaan tersebut nampaknya menunjukan pribadi yang mandiri. Kita datang ke sebuah restoran bukan semata-mata untuk dilayani oleh tukang bersih-bersih atau waitress. Sebuah restoran yang dikunjungi orang-orang lain menunjukan perlunya rasa tanggung jawab dan kemandirian dari pengunjungnya. Mungkin seru juga kalau kita terbiasa untuk memilah dan membuang sendiri sampah dan sisa makanan yang tertinggal di meja. Lagipula, sebuah tempat makan bukannya lebih baik kalau terlihat bersih? 

Saya seratus persen setuju dengan perlunya 'revolusi mental', kosakata yang ramai dipelajari mulut-mulut penduduk Indonesia. Dimulai dengan masalah yang tidak jauh dari kita yaitu sampah. Postingan di atas terlihat sangat benar jika dilihat dari kebiasaan kecil orang Indonesia yang mungkin butuh perubahan.

Tapi uniknya postingan tersebut menuliskan statement yang agaknya menyedihkan, 'Mereknya sih IKEA, kelakuan kita masih Indonesia.' Jika perlu diambil makna tersirat dari kalimat tersebut mungkin, 'mereknya dari luar negeri, kelakuannya masih kampungan' ya kah?

Agak miris mendengar kalimat yang juga sering diucapkan orang kebanyakan, 'Inilah Indonesia.' 'Namanya juga orang Indo.' Begitu senangnya kita membicarakan negara kita dan menyiratkan makna 'kampungan' di setiap ucapannya. hmm.

Kenapa kita agaknya sering mengagung-agungkan negara luar dan merendahkan negara kita? Sesuatu yang begitu indah dan modern bukan perkara milik negara luar. Tapi perkara karakter dan kepribadian yang melewati garis negara dan bangsa. 

Mungkin ini yang disebut perlunya 'revolusi mental' (tanpa sedikitpun ada keinginan mencolek Bapak Presiden Jokowi) sehingga Indonesia tidak perlu lagi memiliki makna 'kampungan' lagi. Tidak perlu memandang rendah bangsanya sendiri, dan yaah, menjadi lebih baik lagi.

Mungkin juga, pikiran kritis menggelitik ini perlu dimasukkan ke 'revolusi mental' supaya kita tidak terus-terusan mengamini rutinitas membosankan dan bergerak dalam kehidupan yang stagnan. ironis.

9.23.2014

Sebuah Pembelajaran

Ada sebuah janji manis berjalan bagai bayangan rapuh di antara dua insan yang mengaku dirundung cinta.
Sebuah janji yang sewaktu-waktu hilang ketika matahari mengkhianati hari.
Seperti tangan yang tak mau lagi berpegangan, apalagi kalau bukan karena mengkhianati janji.
Lalu ribuan cerita cinta yang terbingkai manis di hati keduanya terbuang menjadi percuma

Kita hanyalah jiwa-jiwa dan insan kesepian yang hidup dalam pencarian.
Dibuai dunia yang semu, menjadi bodoh lalu menyalahkan cinta.
Tapi bukannya kita memang manusia sok tahu
Yang berusaha mendefinisikan cinta dan berharap kita tahu segalanya.

Padahal kita tidak pernah benar-benar mengerti artinya.


9.06.2014

Finding your other self

Love comes when it meant to. Sometimes you don't realize when it'll come to you. It just came and next thing you know, you have learned a whole new thing about love itself.

Like that guy who came into my life almost 6 months ago. I never dreamed of him, never have I also thought we will end up together, madly in love with each other. He was that guy I find attractive when he cut his hair at the beginning of this year. He was the same guy who leave a 'Merry Christmas' message on my facebook. He was the guy who came and choose to stay.

Unlike the other guy I fell in love with before him. Those guys, leave the same stories about pain and loneliness at the end. From this guy I learned how to share stories, problem, tears, and happiness. I learn at the same time to be dependent and independent. I learned that love isn't all about poem and stories.

I still remember his face when he confess to me that night. And I wished that he could remember the surprised and happy faces on me. That maybe was the first time I feel loved, especially by the guy I love. We shared stories and similarities. That thousand messages we sent on both mobile phone and facebook messenger was the witness of how we shared lots of things. 

We love staying up all night. It was before out of my knowledge that he sometimes still checking on me wondering if I was still online or not. Writing blog I said, waiting in sadness for prince on a white horse to come.  

We also love coffee. I remember ordered a cup of coffee that sadly has been cancelled due to my condition that time. He almost wrote another cup of coffee. Little he knew, I checking on his face. The same face when he knew we both came from the same place, Yogyakarta.

We like to sing, and hoping for a 'lifetime partner' who can sing. I like music, I know lots of music. And he teaches music. His knowledge of music turned me on. 

Funny thing is, we hate spicy food, and we dont eat veggies.

Within a world filled with billions of people, I'm glad that I found this guy. The guy I call my other self.

It's like when you saw him, you see yourself, part that you hate about yourself, part that you love about yourself. He just that right guy.

Days, weeks, months have passed. that love between us have grown through obstacles. We hate and love each other so much, we just wanna be together. Our relationship is nothing like cars on a highway. We were those old but gold car on our way to a beach of happiness. Of course we sometimes fight. I've seen that angry faces on him, that sadness, that disappointment, but also that face of happiness, loving, and caring. Being on a relationship with the guy you think he is your other self is like seeing each other naked.

You know so much about him, you just wanna keep him. He just filled that void inside your heart.

And as I said this, I'm fully aware that it's been only 6 months we have known each other. I dont know if it was fair to say that he was the right guy. But that first thing I mention at the beginning of our relationship was.. 'I want to work this thing out with you. I aint find a guy who only attracted to me. I want a guy who is willing to work hard with me and fight for us.' And I would never stop trying unless I have lost that loving and caring face on him again.

As long as our love is still exist. I know nothing would bother. 

Sayang.. tonight after you say goodbye. I wish to keep that last smile I saw on you, and bring it to my sleep. Until I find you again. May god bless and keep you safe. :)  

8.02.2014

Kopi Susu dan Secangkir Teh


(2 Agustus 2014- untuk Sayangku)

Noda kopi yang tertinggal di cangkirmu malam tadi
Masih manis menggelantung di bibirku
Satu cangkir teh dengan gula tiga sendok yang kau buat
Masih terasa hangat di pagi yang sedingin ini

Teringat perbincangan dan canda yang kita bagi semalam
Dan sebatang coklat yang kau cecap
Lalu tersisa sedikit di ujung bibirmu, yang akhirnya aku usap
Kita berdua tertawa.

Dan malam yang dingin menjadi terlalu emosional
Tersesat kita pada argumen kecil yang datang dari egoku
Sempat memalingkan muka pada yang tiada
Diam-diam masih memperhatikan dan tidak mau meninggalkan

Lalu aku mengusap bahumu yang tegang akibat argumen kita
dan mengecup keningmu yang berkerut, dan pipimu yang dingin
Hanya senyuman manismu yang aku pinta malam itu
Lalu kau terdiam, meregangkan bahumu, lalu akhirnya menatapku

Senyummu yang memabukan, muncul kembali menghangatkan suasana
Kau teguk lagi kopi, dan aku, teh manis yang kau seduh dengan cinta
Sempat kita terpagut ego, lalu melemah karena cinta.

Lalu darimu aku belajar, cinta yang layak diperjuangkan
Perasaan kita yang mesti dijaga dan ditumbuhkan

Bukan seperti anak kecil lagi dengan teman bayangannya
Dan aku tersadar, cinta yang kau persembahkan adalah yang nyata
Bukan lagi khayalan yang dibungkus semu meski senada
Cintamu yang ada, terukir tulus di setiap kata

Dan aku ingin berada di sisimu selamanya
Di tengah teduhnya semilir angin siang
Ataupun badai yang datang malam-malam
Aku ingin bersamamu saja.

Dan sayang, aku tidak peduli siapa kamu ribuan tahun sebelumnya
Dan dengan siapa kasihmu yang kamu bagi
Aku ada di sini bersamamu sekarang
Dan kuperjuangkan untuk terus  bersamamu ribuan tahun ke depan

Jadi mari berbincang lagi ditemani kopi susu
Atau secangkir teh yang ditaburi gula pemanis rasa
Lalu setelahnya kita bercumbu
dan bercinta di setiap malam

Itu saja yang aku mau.
Mencintaimu selamanya.

7.28.2014

Indahmu.

image

Di tengah setiap lamunanku.
Bayangan akanmu mempesona alamku
Indahnya suaramu menampilkan semburat pelangi surga.
Pelukan dan kecupan manismu menjadi alasan di setiap hela nafas

Oh sayangku.

Aku mau tetap merindukanmu
Sampai sosokmu nyata hadir di sisi
Cerita cinta kita tertulis rapi di mimpi Tuhan.
Jiwa kita menari di pikiran-Nya
Lahir kita menjadi awal perjalanan dua insan yang saling menemukan. Berharap ditemukan.

Makanya aku mau menunggumu
Mendesah rindu yang tersimpan di balik kelopak mata
Dan menanti dengan setia ditemani cerita tentang indahmu.

Tentang kamu dan aku yang terlahir untuk bersatu
Tentang kita berdua yang melayang bersama di tinta pena Tuhan

Aku mencintaimu.
Dan ingin terus begitu.
Menunggumu.
Mendesah rindu pada setiap bintang bulan dan matahari yang berganti.

Sayang. Hanya kita.

7.24.2014

Yang aku minta

25 juli 2014

Menantimu bagaikan disiram kemarau yang tak berpenghujung.
Bagai daun-daun kering merindukan setitik hujan
Dan anak kecil yang sedang kehausan di puasa pertamanya.

Wajahmu yang tiba-tiba muncul di balik pintu
Dilengkapi senyuman dan pelukan lembut yang kau berikan
Mengundang oase yang nyata di tengah padang gurun
Si anak kecil yang kehausan berlarian mendengar bedug.

Lalu duduk berdua denganmu ditemani lampu jalanan
Tak ada lilin romantis atau steak mahal penghias meja
Tuturmu yang datang dari hati menjadi yang paling mahal
Di saat aku lelah menanti hari

Kenapa waktu segera berlalu
Sepertinya baru dua tiga kata kita ucap
Baru dua tiga tawa yang terlontar
Lalu datang lagi musim kemarau kemarin

Kembali bangun tanpa senyummu dalam tidur
Membuatku menatap pintu menanti kau masuk

Oh tuhan, denganmu saja yang aku minta.
Mencintaimu dan menantimu, aku setia.

image