10.24.2014

Pikiran Kritis Menggelitik

Akhir-akhir ini tersadar kalau frekuensi menulis saya berkurang drastis jika dibandingan satu tahun lalu di mana waktu luang terlihat sangat membangkitkan selera menulis. Sekarang, sepulang kerja nampaknya saya terlalu letih jika masih harus berpikir ini itu demi menuangkannya ke sebuah tulisan. Rasanya waktu luang itu lebih asyik dihabiskan untuk bersantai mengobrol atau mengistirahatkan tubuh dan pikiran di atas kasur.

Pertanyaannya adalah, kemana perginya pikiran kritis menggelitik yang dulu bersliweran di otak saya? Atau sebenarnya pikiran itu masih tersimpan di sana, menumpuk, lalu terlupakan? Mungkin kebanyakan dari kita sebenarnya terkurung di rutinitas membosankan yang membuat kita mengamini yang sudah ada tanpa mau memperhatikan pikiran kritis menggelitik namun menarik.

Saya rindu menantang tatanan yang sudah rapi dan mencari kebenaran yang nampaknya tidak cuma satu di dunia ini. Seperti pertanyaan menggelitik teman saya ketika makan tadi. 'Itu yang tadi lu share, maksudnya gimana? Emang di sana begitu ya?'

Postingan ini dibuat oleh seorang pengguna facebook bernama Setio Nugroho. 

Pertanyaan itu membawa saya ke kurang lebih satu tahun yang lalu ketika masih numpang hidup di negara orang. Euforia terhadap IKEA yang baru hadir beberapa waktu lalu, sama seperti yang saya rasakan ketika pertama kali diajak ke IKEA, sebuah toko furniture yang didesain unik dan dilengkapi dengan restoran. Hmm, sesuai ukuran kantong mahasiswa, saya datang ke sana hanya untuk mengagumi desain ruangan dan mencicipi sosis IKEA yang luar biasa enaknya. 

Restoran kecil itu dilengkapi dengan 4-5 meja tinggi tanpa kursi. Jadi sehabis kami memesan makanan dan minuman, kami berdiri melingkar di pinggir meja. Setelah selesai makan, sambil melirik-lirik ke kebiasaan orang sana, kami mengumpulkan sampah kami dan membuangnya ke tempat sampah. Meninggalkan meja dengan bersih sehingga dapat dipakai oleh orang setelahnya.

Kebiasaan tersebut nampaknya menunjukan pribadi yang mandiri. Kita datang ke sebuah restoran bukan semata-mata untuk dilayani oleh tukang bersih-bersih atau waitress. Sebuah restoran yang dikunjungi orang-orang lain menunjukan perlunya rasa tanggung jawab dan kemandirian dari pengunjungnya. Mungkin seru juga kalau kita terbiasa untuk memilah dan membuang sendiri sampah dan sisa makanan yang tertinggal di meja. Lagipula, sebuah tempat makan bukannya lebih baik kalau terlihat bersih? 

Saya seratus persen setuju dengan perlunya 'revolusi mental', kosakata yang ramai dipelajari mulut-mulut penduduk Indonesia. Dimulai dengan masalah yang tidak jauh dari kita yaitu sampah. Postingan di atas terlihat sangat benar jika dilihat dari kebiasaan kecil orang Indonesia yang mungkin butuh perubahan.

Tapi uniknya postingan tersebut menuliskan statement yang agaknya menyedihkan, 'Mereknya sih IKEA, kelakuan kita masih Indonesia.' Jika perlu diambil makna tersirat dari kalimat tersebut mungkin, 'mereknya dari luar negeri, kelakuannya masih kampungan' ya kah?

Agak miris mendengar kalimat yang juga sering diucapkan orang kebanyakan, 'Inilah Indonesia.' 'Namanya juga orang Indo.' Begitu senangnya kita membicarakan negara kita dan menyiratkan makna 'kampungan' di setiap ucapannya. hmm.

Kenapa kita agaknya sering mengagung-agungkan negara luar dan merendahkan negara kita? Sesuatu yang begitu indah dan modern bukan perkara milik negara luar. Tapi perkara karakter dan kepribadian yang melewati garis negara dan bangsa. 

Mungkin ini yang disebut perlunya 'revolusi mental' (tanpa sedikitpun ada keinginan mencolek Bapak Presiden Jokowi) sehingga Indonesia tidak perlu lagi memiliki makna 'kampungan' lagi. Tidak perlu memandang rendah bangsanya sendiri, dan yaah, menjadi lebih baik lagi.

Mungkin juga, pikiran kritis menggelitik ini perlu dimasukkan ke 'revolusi mental' supaya kita tidak terus-terusan mengamini rutinitas membosankan dan bergerak dalam kehidupan yang stagnan. ironis.

9.23.2014

Sebuah Pembelajaran

Ada sebuah janji manis berjalan bagai bayangan rapuh di antara dua insan yang mengaku dirundung cinta.
Sebuah janji yang sewaktu-waktu hilang ketika matahari mengkhianati hari.
Seperti tangan yang tak mau lagi berpegangan, apalagi kalau bukan karena mengkhianati janji.
Lalu ribuan cerita cinta yang terbingkai manis di hati keduanya terbuang menjadi percuma

Kita hanyalah jiwa-jiwa dan insan kesepian yang hidup dalam pencarian.
Dibuai dunia yang semu, menjadi bodoh lalu menyalahkan cinta.
Tapi bukannya kita memang manusia sok tahu
Yang berusaha mendefinisikan cinta dan berharap kita tahu segalanya.

Padahal kita tidak pernah benar-benar mengerti artinya.


9.06.2014

Finding your other self

Love comes when it meant to. Sometimes you don't realize when it'll come to you. It just came and next thing you know, you have learned a whole new thing about love itself.

Like that guy who came into my life almost 6 months ago. I never dreamed of him, never have I also thought we will end up together, madly in love with each other. He was that guy I find attractive when he cut his hair at the beginning of this year. He was the same guy who leave a 'Merry Christmas' message on my facebook. He was the guy who came and choose to stay.

Unlike the other guy I fell in love with before him. Those guys, leave the same stories about pain and loneliness at the end. From this guy I learned how to share stories, problem, tears, and happiness. I learn at the same time to be dependent and independent. I learned that love isn't all about poem and stories.

I still remember his face when he confess to me that night. And I wished that he could remember the surprised and happy faces on me. That maybe was the first time I feel loved, especially by the guy I love. We shared stories and similarities. That thousand messages we sent on both mobile phone and facebook messenger was the witness of how we shared lots of things. 

We love staying up all night. It was before out of my knowledge that he sometimes still checking on me wondering if I was still online or not. Writing blog I said, waiting in sadness for prince on a white horse to come.  

We also love coffee. I remember ordered a cup of coffee that sadly has been cancelled due to my condition that time. He almost wrote another cup of coffee. Little he knew, I checking on his face. The same face when he knew we both came from the same place, Yogyakarta.

We like to sing, and hoping for a 'lifetime partner' who can sing. I like music, I know lots of music. And he teaches music. His knowledge of music turned me on. 

Funny thing is, we hate spicy food, and we dont eat veggies.

Within a world filled with billions of people, I'm glad that I found this guy. The guy I call my other self.

It's like when you saw him, you see yourself, part that you hate about yourself, part that you love about yourself. He just that right guy.

Days, weeks, months have passed. that love between us have grown through obstacles. We hate and love each other so much, we just wanna be together. Our relationship is nothing like cars on a highway. We were those old but gold car on our way to a beach of happiness. Of course we sometimes fight. I've seen that angry faces on him, that sadness, that disappointment, but also that face of happiness, loving, and caring. Being on a relationship with the guy you think he is your other self is like seeing each other naked.

You know so much about him, you just wanna keep him. He just filled that void inside your heart.

And as I said this, I'm fully aware that it's been only 6 months we have known each other. I dont know if it was fair to say that he was the right guy. But that first thing I mention at the beginning of our relationship was.. 'I want to work this thing out with you. I aint find a guy who only attracted to me. I want a guy who is willing to work hard with me and fight for us.' And I would never stop trying unless I have lost that loving and caring face on him again.

As long as our love is still exist. I know nothing would bother. 

Sayang.. tonight after you say goodbye. I wish to keep that last smile I saw on you, and bring it to my sleep. Until I find you again. May god bless and keep you safe. :)  

8.02.2014

Kopi Susu dan Secangkir Teh


(2 Agustus 2014- untuk Sayangku)

Noda kopi yang tertinggal di cangkirmu malam tadi
Masih manis menggelantung di bibirku
Satu cangkir teh dengan gula tiga sendok yang kau buat
Masih terasa hangat di pagi yang sedingin ini

Teringat perbincangan dan canda yang kita bagi semalam
Dan sebatang coklat yang kau cecap
Lalu tersisa sedikit di ujung bibirmu, yang akhirnya aku usap
Kita berdua tertawa.

Dan malam yang dingin menjadi terlalu emosional
Tersesat kita pada argumen kecil yang datang dari egoku
Sempat memalingkan muka pada yang tiada
Diam-diam masih memperhatikan dan tidak mau meninggalkan

Lalu aku mengusap bahumu yang tegang akibat argumen kita
dan mengecup keningmu yang berkerut, dan pipimu yang dingin
Hanya senyuman manismu yang aku pinta malam itu
Lalu kau terdiam, meregangkan bahumu, lalu akhirnya menatapku

Senyummu yang memabukan, muncul kembali menghangatkan suasana
Kau teguk lagi kopi, dan aku, teh manis yang kau seduh dengan cinta
Sempat kita terpagut ego, lalu melemah karena cinta.

Lalu darimu aku belajar, cinta yang layak diperjuangkan
Perasaan kita yang mesti dijaga dan ditumbuhkan

Bukan seperti anak kecil lagi dengan teman bayangannya
Dan aku tersadar, cinta yang kau persembahkan adalah yang nyata
Bukan lagi khayalan yang dibungkus semu meski senada
Cintamu yang ada, terukir tulus di setiap kata

Dan aku ingin berada di sisimu selamanya
Di tengah teduhnya semilir angin siang
Ataupun badai yang datang malam-malam
Aku ingin bersamamu saja.

Dan sayang, aku tidak peduli siapa kamu ribuan tahun sebelumnya
Dan dengan siapa kasihmu yang kamu bagi
Aku ada di sini bersamamu sekarang
Dan kuperjuangkan untuk terus  bersamamu ribuan tahun ke depan

Jadi mari berbincang lagi ditemani kopi susu
Atau secangkir teh yang ditaburi gula pemanis rasa
Lalu setelahnya kita bercumbu
dan bercinta di setiap malam

Itu saja yang aku mau.
Mencintaimu selamanya.

7.28.2014

Indahmu.

image

Di tengah setiap lamunanku.
Bayangan akanmu mempesona alamku
Indahnya suaramu menampilkan semburat pelangi surga.
Pelukan dan kecupan manismu menjadi alasan di setiap hela nafas

Oh sayangku.

Aku mau tetap merindukanmu
Sampai sosokmu nyata hadir di sisi
Cerita cinta kita tertulis rapi di mimpi Tuhan.
Jiwa kita menari di pikiran-Nya
Lahir kita menjadi awal perjalanan dua insan yang saling menemukan. Berharap ditemukan.

Makanya aku mau menunggumu
Mendesah rindu yang tersimpan di balik kelopak mata
Dan menanti dengan setia ditemani cerita tentang indahmu.

Tentang kamu dan aku yang terlahir untuk bersatu
Tentang kita berdua yang melayang bersama di tinta pena Tuhan

Aku mencintaimu.
Dan ingin terus begitu.
Menunggumu.
Mendesah rindu pada setiap bintang bulan dan matahari yang berganti.

Sayang. Hanya kita.

7.24.2014

Yang aku minta

25 juli 2014

Menantimu bagaikan disiram kemarau yang tak berpenghujung.
Bagai daun-daun kering merindukan setitik hujan
Dan anak kecil yang sedang kehausan di puasa pertamanya.

Wajahmu yang tiba-tiba muncul di balik pintu
Dilengkapi senyuman dan pelukan lembut yang kau berikan
Mengundang oase yang nyata di tengah padang gurun
Si anak kecil yang kehausan berlarian mendengar bedug.

Lalu duduk berdua denganmu ditemani lampu jalanan
Tak ada lilin romantis atau steak mahal penghias meja
Tuturmu yang datang dari hati menjadi yang paling mahal
Di saat aku lelah menanti hari

Kenapa waktu segera berlalu
Sepertinya baru dua tiga kata kita ucap
Baru dua tiga tawa yang terlontar
Lalu datang lagi musim kemarau kemarin

Kembali bangun tanpa senyummu dalam tidur
Membuatku menatap pintu menanti kau masuk

Oh tuhan, denganmu saja yang aku minta.
Mencintaimu dan menantimu, aku setia.

image

7.22.2014

Selamat Berjuang

image

Pemilu.. ah pesta demokrasi yang meriah diwarnai canda, dibumbui drama ini, akhirnya sampai di fase ketok palu pengumuman presiden dan wakil terpilih.

Ribuan ucapan selamat untuk pres wapres pilihan rakyat ini terus membanjiri seluruh sosial media. Tak sedikit yang membawa pesan nasihat pada capres wapres yang harus mengalah pada keputusan bahwa hanya boleh ada satu pres wapres di bangsa ini.

Selamat untuk kita semua yang sudah mencermati dan mengikuti proses demokrasi ini.

Terima kasih untuk kedua capres cawapres serta tim nya yang sudah meluangkan waktu menaruh nasib bangsa di hati mereka dan membawanya dalam harapan dan doa mereka.

Selamat berjuang dan berkarya untuk pres wapres terpilih.

Semoga euforia 'perubahan' ini tidak hanya sampai di sini tapi tetap dibawa di hati setiap orang sampai hembusan nafas bangsa yang terakhir.

Harus ada yang terpilih dari kedua calon. Harus ada yang menang dari kedua pilihan.

Tapi pemilu dan pesta demokrasi ini bukan masalah kemenangan dan kekalahan, tapi keinginan untuk berjalan bersama presiden dan wakil presiden terpilih untuk membangun bangsa.

Semoga kita bisa :)

7.21.2014

Demokrasi Hati

pixoto.com

Orang Indonesia itu kreatif. Kekreatifitasan itu membuat segala hal yang sedang hangat di pasaran jadi laku di mata, telinga, bahkan mulut orang Indonesia. Dari cuma kulit manggis yang mempunyai jingle catchy, piala dunia yang tidak dimenangkan oleh Spanyol lagi, sinetron idul fitri yang mempromosikan si kucing cantik dari Jepang, sampai pemilihan presiden yang sebelum diumumkan sudah dimenangkan oleh kedua pihak.

Uniknya, Pemilu yang sempat dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang, kini menjadi hal penting yang harus diperjuangkan bahkan hanya lewat pijitan jempol ke handphone masing-masing. Semua orang berlomba, share berita sana sini diberikan tambahan opini dan kreatifitas masing-masing. Semua orang dari yang kecil hingga nenek yang terbaring di rumah sakit ingin menyuarakan opininya di pesta demokrasi kali ini.

Well, back to the point I have ever written here that 'Democracy could be decisive', I'm glad to some point many people seems to be more well-educated now.

Cukup berbangga hati melihat animo masyarakat yang terlihat 'melek politik'. Apalagi terhadap anak muda yang menyuarakan perubahan. Mungkin mereka bosan terseok-seok di jalan yang sama. Bahkan ketika pemilu 9 juli kemarin, banyak orang-orang yang menyulap handphone mereka untuk menjadi saksi agar tidak terjadi kecurangan. Euphoria, satu kata, terhadap pemilihan presiden 2014 ini cukup membuat saya khususnya bertepuk tangan. Inilah harusnya cara kita memilih presiden di Indonesia yaitu dengan mempelajari lalu yakin.

Awalnya, saya tidak terlalu menaruh hati pada pemilihan ini. Mungkin sama alasannya, bukan tak ingin diedukasi, tapi pernyataan, 'ah paling sama saja' yang lahir dari pandangan skeptis terhadap politik, membuat saya malas mencampuri urusan si satu atau si dua.

Tetapi bermula dari kekreatifitasan orang Indonesia dalam berpendapat membuat saya merasa dicolek ribuan tangan untuk memperhatikan fenomena si satu dan si dua di Indonesia. Pernah saya dibonceng rekan kerja suatu hari, di situ tiba-tiba beliau menanyakan, 'ryn pilih siapa nanti?' Tergagap, saya cuma bisa bilang, 'entahlah, pak. Mungkin si ini.' Saat itu saya hanya 'asal' menjawab, cuma karena tidak ingin ikut2an pilihan orang. -Biasa, kalau anti-mainstream begitulah- Lalu rekan kerja saya inipun menjelaskan seluruh opininya. Sah-sah saja memang. Tapi karena ribuan motor dan mobil yang tidak bisa di-mute, suara beliau jadi samar2.

Sama seperti salah satu teman ayah saya yang setiap kali naik mobil saya, pertanyaan yang diajukan adalah, 'milih sopo, pak entar?' Walah~

Semua berlomba menyuarakan pendapat seakan-akan takut kalau di pasaran harga telinga yang belum tuli ini jadi meninggi karena kehabisan stok. Ah~ sah-sah saja, toh', pendapat itu hasil kerja otak yang diasimilasi dari apa yang dilihat didengar dan dirasa. Jadi saya terus saja memperhatikan gejolak kekreatifitasan dan mulut orang2 yang menyuarakan pendapat. Mencoba menjadi telinga-telinga dan mata yang tersisa.

Lalu tepuk tangan saya mereda setelah menyaksikan maraknya kekreatifitasan menyimpang orang-orang yang entah punya maksud atau hatinya busuk. Black Campaign kata mereka. Saya yang miskin kosa kata, mau tidak mau mempelajari dari contoh apa yang dimaksud Black Campaign. 'Fitnah' mungkin kalau kata sinetron. Kampanye negatif yang dimandikan dengan berita dan fakta yang diputar-putar untuk membangkitkan kebingungan.

Media~ ah lagi-lagi. Kalau bicara tentang politik selalu.. One nation controlled by the media, Green Day once said in their song.

Saya pernah menyimak satu tulisan yang mengatakan kalau media sebenarnya tidak perlu netral, yang penting mereka menyuarakan kebenaran. Nah ini, sudah tidak netral, tidak benar pula. Dulu waktu di Taiwan, saya sempat berbangga hati akan kemampuan jurnalisme orang-orang Indonesia. Mampu menulis, kritis, dan kreatif. Tetapi ketika sudah sampai di prinsip dasar 'memberitakan yang benar' dilanggar. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tetap berdiam memperhatikan.

Kebohongan yang disuarakan oleh media ini kemudian diamini oleh orang-orang. Semua orang yang 'innocent' sampai yang hatinya sudah di tahap memilih menjadi porak-poranda disetir kata-kata dari media. Dimulai dari kebohongan, kebencian pun dilahirkan. Ah~ kekreatifitasan orang Indonesia ditambah mulut-mulut yang haus akan telinga membuat mereka lupa mundur sejenak hanya untuk berdiam dan memperhatikan.

Sulit memang kalau kebencian sudah terlahir. Absolut, tidak ada toleransi terhadap konotasi negatif yang ditimbulkan dari kata ini.

Sayangnya calon presiden kita cuma dua. Jadi ya kalau tidak satu ya dua, kalau tidak dua ya satu. Namanya sudah versus itu biasanya menurunkan derajat 'pemilihan presiden' menjadi pertandingan yang cuma ada kalah dan menang. Kalau tidak menang ya kalah.

Menyedihkan kalau buat saya.

Pemilihan Presiden yang menjadi tujuan pesta demokrasi ini harusnya lebih dari sekedar pertandingan dan ego untuk menang. Karena pesta demokrasi bukan arena tinju berdarah yang hanya satu tangan pemenang yang diangkat. Bukan juga ajang bertaruh seperti piala dunia. Ini bukan kontes. Kemenangan satu pihak bukan menjadi tujuan dari Pemilihan Presiden. Yang terpenting, bukan kemenangan yang dicari. Tetapi sebuah kesepakatan bangsa untuk saling bantu memajukan negerinya.

Itu yang belum saya lihat.

Pesta demokrasi yang indah ini. Orang-orang yang sudah melek politik ini. Mulut-mulut yang berhasil menyuarakan pendapat tanpa ditembak mati ini. Masih perlu dibarengi semangat mengasihi dari hati.

Ternyata demokrasi tidak pernah lengkap tanpa edukasi dan hati yang bersih.


7.10.2014

Catatan kecil saat menjagamu terlelap.


Catatan kecil saat menjagamu terlelap. 10 Juli 2014

Sayang, aku masih dipenuhi rasa rindu kemarin.
Ditambah syahdu suasana akan kisah cinta dua insan.
Aku akhirnya menemukan sosokmu sore tadi.
Terburu-buru, tapi sempat mencari senyum yang aku simpan.

Lega rasanya masih bisa melihatmu.
Meski si sakit datang mengganggu kerlingan matamu.
Dan senyuman serta celetukan yang selalu membuatku tertawa.
Tapi tak apa, kehadiranmu lebih dari cukup menjadi obat rindu.

Semalaman kita berkisah tentang cinta.
Sesuatu yang menghangatkan perasaan dan jiwa
Rasanya ingin segera berlari dan menciumimu lagi.
Terbayang surga di ujung jejak kaki kita.

Aku ingin mati di pelukmu
dan bersemayam selamanya di hatimu

Aku ingin kita tak perlu punya raga
hanya jiwa yang terikat dengan cincin surga

Aku ingin hidup denganmu dan menggapai cita
sambil bergandeng tangan.
Aku ingin memenuhi dunia dengan canda
dan ketulusan dari cinta kita.

Aku ingin kita hidup ratusan tahun
Berjalan bergandengan di pinggir pantai
Menikmati terbit dan tenggelamnya matahari
Tertawa sambil bercumbu mesra

Aku ingin tergila-gila padamu
Meski anak cucu mentertawakan kita
Aku ingin menua denganmu, 
Dan menjaga cinta yang tak pernah menjadi tua.

Oh sayang, aku begitu merindukan tawamu.
Dan senyumanmu yang membuatku tenang.
Ingin tertidur pulas di pelukanmu
Dan bangun dengan kecupanmu.

Cepat sembuh sayang.
Aku mencintaimu..

5.19.2014

Surat untuk Laki-lakiku.

Selasa, 20 Mei 2014

Hampir jam 12 siang, mas pasti belum mau makan siang. Sejak kita memilih untuk bersama dan aku tahu mas jarang makan siang, aku pasti selalu khawatir kalau mas belum makan, padahal mas harus siap siaga di jalanan. Gimana kalau mas kelaparan, atau perutnya sakit?

Jangankan perut sakit, kaki mas yang terkadang berdarah saja, sudah cukup membuat aku ketakutkan. Mas pernah bilang, dua insan yang bersama harus menyatu dan menjadi satu tubuh. Disadari atau tidak, rasa sakit mas menjadi rasa sakit aku juga.

Makan dulu sayang. Atau paling tidak cemil ini itu, jangan lupa kopi. Di jalanan bahaya sayang, banyak kendaraan yang suka selonong boy, seenaknya sendiri. Aku paling takut mas kenapa-kenapa.
Itu kalau siang. Ketika malam hari, mas selalu berusaha mengantarkan aku menempuh ribuan kilometer jalanan ibukota hanya untuk melihat aku selamat sampai di rumah. Aku selalu ingin kembali naik motor itu dan ikut mas pulang, hanya ingin memastikan mas kembali selamat sampai di rumah. 

Tapi aku suka ketiduran. Bukan karena aku tidak peduli. Kelihatannya jahat memang. Sepertinya rasa cintaku hanya sampai di sms pertama begitu kita berpisah. 'Mas, hati-hati di jalan. Sayang mas'
Tapi kalau aku ketiduran, setiap bangun esoknya, kepalaku langsung pusing, buru-buru mencari hp, menyalahkan diri sendiri, dan mencari segala cara untuk menghubungi mas. Paling tidak mencari kabar, apa mas sudah sampai di rumah dengan selamat. Lagi-lagi karena ketakutan aku. Kalau terbayang kecelakaan mas satu tahun lalu, rasanya aku ingin bawa mas di tas ransel aku, dan aku jaga baik-baik biar tidak ada yang bisa menyakiti badan mas.

Maaf kalau aku sering ketiduran. Kalau boleh aku ga pernah ingin tidur, supaya aku bisa menjaga mas 7 hari 24 jam setiap minggu. Tukang tidur seperti aku.. oh Tuhan, apa yang bisa aku lakukan untuk mas?

Sayang, aku pernah bilang mau jadi penulis. Duniaku, dunia tulis menulis, aku suka bermain kata, dan aku benci keharusan dan tata bahasa yang rasanya selalu mengeliminasi tulisanku. Mas tahu sendiri, berapa puisi yang aku buat ketika jatuh cinta dulu.

Dulu, cerita kita sepertinya banyak menyinggung yang dulu. Dulu begini dan begitu. Aku ingin berbagi masa laluku dengan mas. Semua perasaan cintaku yang begitu banyak setiap tahunnya, berakhir di tulisan-tulisan rongsokan yang tidak ada artinya. Tidak ada seorangpun yang berniat melirik aku, atau memberikan harapan sedikitpun, tak peduli berapa banyak yang aku berikan. 

Dulu, buat aku, setiap cinta adalah penolakan dan penantian, sampai aku menemukan gantinya. Dan akan terus begitu, sampai (syukur2) aku menemukan seseorang yang paling aku tunggu. Harapanku begitu besar ketika jatuh cinta. Saat yang harus aku lakukan adalah menanti dan mencinta, hanya itulah yang bisa aku usahakan dulu. 

Sampai, aku sadar bahwa cinta yang ada dulu itu hanya sesemu bayangan di balik cermin. Terlihat nyata, tapi hanya ada di dalam otakku sendiri. 'Cinta sendiri' kalau orang bilang. Aku terlalu banyak dan terlalu sering bergabung dengan duniaku sendiri yang mencintai orang-orang yang tidak pernah akan mencintai aku. Kenapa? Karena aku masih memberikan celah untuk harapan. Sampai pada akhirnya satu persatu semua harus disudahi, dan berganti dengan cerita baru yang sama menyakitkannya.

Lalu aku bertemu mas.

Yang menawarkan cinta yang meluap-luap di awal pertemuan kita. Belum ada yang punya rasa kekaguman terhadap aku, kecuali mas. Mas menawarkan waktu seumur hidup untuk kita berdua. Menjadi sepasang kekasih yang akhirnya direstui Tuhan untuk aku miliki sendiri. Duniaku yang akhirnya dapat dibagi.
Mas memberikan harapan yang sempat hilang. Harapan akan cinta dan kasih sayang yang paling suci yang dimiliki dua insan ketika memilih jalan pernikahan.

Aku ingin berakhir dan mati di pelukmu, sayang. Dan menyempurnakan hidup aku dengan memandang wajahmu. Laki-lakiku, yang memilih aku. 

Setiap orang punya masa lalu, sayang. Tidak ada yang pernah main-main dalam urusan cinta. Setidaknya kita berdua bilang begitu. Kita pernah bertemu dan mencintai orang lain sebelumnya. Selalu serius dalam urusan cinta, selalu mencintai sepenuh hati, selalu bertahan dalam keadaan apapun. Karena sebuah harapan akan masa depan. Kau dan aku, sama atau beda, kita tetap punya masa lalu.

Sayang, seandainya boleh, aku ingin lahir kembali, bersih tanpa masa lalu, lalu bertemu denganmu. Dan mencintaimu dari lahir hingga akhir hayat. 

Tapi masa lalu selalu ada. Justru karena masa lalu. Kita bertemu dan memilih bersatu. Jalan panjang yang kita lalui dulu, menuntun kita untuk bertemu di sini. Dan kini, aku memilihmu, laki-lakiku yang memilihku.

Dan ketika aku memilihmu. Bukan berarti aku terlahir kembali tanpa masa lalu. Semua akan tetap ada di belakang. Tapi aku memilih maju bersamamu. 

Karena aku ingin berakhir, mati di pelukmu. Sayang.

Wajahmu yang menua yang ingin aku nikmati ketika nafasku hanya tinggal beberapa detik. Tanganmu yang ingin aku pegang ketika aku harus menutup mata. Dan detak jantungmu yang ingin aku dengar, yang membuatku merasa aman. Merasa dicintai.

Laki-lakiku yang memilih aku... 

Tersenyumlah dan percayalah bahwa cinta mas, yang menguatkan aku.
Sayang, aku memilihmu. 

Karyn.

PS. Jangan lupa makan, sayang.